Hatiku tiba-tiba bergetar merasakan nikmat Allah yang begitu
indah. Dapat menghirup udara yang segar, dan merasakan cuaca yang begitu teduh.
Sembari mengenang masa laluku ketika aku sekolah. Tepatnya waktu itu aku masih kelas
1 SMA di kotaku, SMA Negeri terfavorit ketika itu di
kotaku. Sekarang aku tak tahu lagi apakah masih ada istilah sekolah favorit.
Pada saat semester pertama. Aku merasa suka dengan seorang
cewek, namanya putri. Dia merupakan salah satu
orang yang baik hati di kelas. Dia sedikit hitam manis, gemuk dan pendek. Tapi
aku suka. Entah apa sebab dan awal mulanya hal yang membuat aku bisa suka
dengannya. Orang yang terlihat tidak cantik sama sekali.
Aku dan dia bisa bersahabat akrab di awal semester itu, tapi
aku tak berani untuk mengungkapkan perasaanku. Aku merasa diriku adalah orang
yang pengecut. Tak berani untuk mengungkapkan cinta kepadanya yang kusuka,
padahal hanya bermodalkan bicara.
Tiba-tiba.
“ Habiby, makan kantin yok” ajak putri.
“
Ha? Makan kantin? Emang lu bisa makan kantin?” jawabku.
“Maksudnya,
makan di kantin lo” jelasnya.
“Yok,
lagian aku uda lapar put” jawabku.
Kamipun pergi ke kantin, teman- tapi
mesra. Bersenda gurau melepas kepenatan habis pelajaran matematika. Setelah itu
kami masuk ke dalam kelas sembari menunggu bel pulang sekolah. Perasaan yang
ada di dalam hati semakin menggelora tanpa arah yang jelas. Entah kemana aku
harus mengarahkan gerak hatiku. Saat itu, yang muncul dalam pikiranku bagaimana
agar aku bisa jadian dengannya.
“Ya
Allah, aku ingin dia, bagaimana caranya?”
“Haruskah
aku langsung mengatakannya? Atau bagaimana ya Allah?”
“Perasaanku
semakin menggelegar ya Allah”
Saat
itu, langsung ku-sms putri.
“Put,
ada yang mau aku omongin nih”
“Apa
bib?”
“Ini
hal yang menyangkut tentang perasaan put”
“Apa
sih bib? Jangan bertele-tele deh”
“Aku
suka ma kamu put”
“Gimana
ya bib?”
“Kenapa
put?”
“Nanti
aku pikir-pikir dulu deh bib”
Keesokan
harinya.
“Gimana
put?”
Teringatnya
ini uda ga melalui sms lagi, tapi live.
“Boleh,
kita coba aja dulu”
“Alhamdulillah”
Kami ke kantin seperti biasa, tiada
yang istimewa dan tiada hal yang berbeda. Hanya sebatas perubahan status. Itu
hanya sebentar saja ternyata, dia menerimaku hanya karena terpaksa. Siang itu,
sebelum pulang sekolah kami putus. Hubungan yang singkat bukan? Ya, jelas saja.
Aku merasa dipermainkan oleh sahabatku sendiri. Kalau memang tidak mau,
harusnya dia tidak perlu berpura-pura mau. Hatiku terpecah-belah seakan dunia
akan kiamat. Pulang ke rumah, dengan hati yang terhenyak dan sesak.
Tiada
hari yang paling menyakitkan, selain dibohongi oleh sahabat sendiri.
Sampai di rumah, aku malah diteror oleh emaknya si juli.
Cewek yang pernah kukirimi surat cinta.
“Kalo
kau mau sama anakku, datang kau ke rumah” dengan nada kasar.
Perasaan sedihku bercampur cemas.
Sungguh, aku merupakan orang yang paling pengecut dalam menjaga perasaan. Tapi
ketika itu aku teringat dengan tetanggaku yang sedang pacaran dengan kakaknya
si juli. Kuperhatikan tetanggaku itu seperti pembantu, bukan seperti calon menantu
diperlakukan oleh orang tuanya. Alhasil, aku berusaha untuk melupakan hal yang
terjadi hari ini.
Melupakan hal yang tidak penting dalam hidup ini, terkadang
akan terasa sulit. Namun, jika kita bisa, akan membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Malam hari, masih dihari yang sama.
Aku berangkat les bahasa inggris. Di sana aku berkenalan dengan seorang cewek.
“Namamu
siapa?”
“Namaku
Yani. Kamu?”
“Namaku
Habiby”
“Kamu kelas berapa yan?”
“Kelas
2”
“Ooooo”
“Tinggal
dimana yan?”
Perbincanganpun menjadi sangat panjang.
Dinginnya kipas angin mengusik kulitku, menepis rambut pendekku. Di dalam
ruangan itu, Kebetulan aku merupakan anak baru di tempat les itu. Sehingga,
tiada hal yang harus kulakukan melainkan berkenalan dengan teman-teman baruku,
terutama dengannya. Dimalam yang begitu terasa ramai, dalam pikirku dia mungkin
sudah kelas 2 SMA. Ternyata, apa yang
ada di dalam benakku salah.
Dia merupakan tetangga saudaraku. Dengan penuh rasa
penasaran, aku terus menyelidiki dan mencari tahu segala tentangnya, ternyata dia
anak pak Ali (nama ayahnya yani). Pak Ali tidak memunyai anak yang kelas 2 SMA.
Yang ada kelas 2 MTs. Karena badannya yang lebih besar dari badanku, jadi aku
mengira bahwa dia lebih tua dariku. Ternyata tidak.
Dimalam berikutnya, penuh dengan
perasaan yang mendalam, aku pun terus bertanya segalanya tentang dia. Apakah
dia SMA atau MTs.
“Yan,
kamu sebenarnya SMA atau MTs sih?”
“Emangnya
kenapa?”
“Seriuslah
yan”
“Aku
masih MTs”
“Ooooooo”
“Ga
usah panjang kali habiby”
Semenjak kami tukaran nomor HP, kami
selalu berbalas-balasan SMS. Tiap pagi, siang, sore, dan malam bahkan aku lupa
kapan aku tidak meng-sms dia.
Pada suatu malam, aku iseng nge-sms
yani. Aku tembak dia via sms, pakai bahasa inggris. Tepatnya pembahasaannya aku
lupa seperti apa dulu. Tapi tak panjang cerita, dia langsung terima. Aku tidak
menyangka, cewek secantik dia menerima cintaku. Padahal, aku hanya iseng
awalnya. Tapi ini menjadi pengobat hatiku, setelah hatiku retak bertubi-tubi
dan ambruk tak tersisa. Ternyata ia tersusun kembali menjadi rapi. Puing-puing
yang hampir sirna pun kembali, kesedia kala. Aku belajar untuk mencintainya,
seseorang yang tak pernah kuduga.
Mencinta,
ia hadir dengan kejutan. Tak pernah terduga bentuk dan kejadian ia bermula.
Begitu ia muncul, hati akan terangkat. Cinta, tak selamanya ia karena pandangan
pertama. Kehadirannya yang tak disangka-sangka, bisa jadi ia muncul dengan
banyaknya intensitas pertemuan.
Awan putih berlarian di langit yang
biru, ia membuka mataku atas keterpanaan pada cinta. Diawal masa penjajakan
berdua, hanya aku dan dia. Kami berpacaran layaknya seperti sahabat, kami tidak
pernah pegangan tangan apalagi berpelukan. Saat itu kami hanya sms dan
telponan. Berkendaraan satu sepeda motorpun tidak (Red Boncengan). Semua cerita
cintaku terlewati dengan hati saja. Itu berlangsung dalam beberapa bulan. Bulan-bulan berikutnya berbeda pula kisahnya.
Masih dalam cinta yang sama, ya, dengannya.
Menjalani kisah cinta yang terasa indah saat itu. Penuh
dengan kebahagiaan. Aku tertanya, kenapa dia langsung menerima cintaku. Ternyata,
ada alasan kenapa dia menerima cintaku. Sebab, dia dari dulu memperhatikanku
ketika aku ke rumah saudaraku.
Masa itu, sebenarnya masa yang
paling kusesali. Jika waktu itu aku tahu
jikalau pacaran itu tidak boleh. Tentu aku tidak akan melakukannya.
Meskipun pacaran yang kami alami tidak seperti orang lain pada umumnya. Ini
kisah masih berlanjut, karena saat itu jalan cinta belum kutemukan. Berjuang
untuk menemukan jalan yang itu, bukan merupakan hal yang tampak mudah. Butuh begitu
banyak pengorbanan. Semoga bertemu dengan jalan itu. Semoga Allah pertemukanku
dengan jalan cinta. Di jalan itu, akan kutemukan ridho-Mu.