This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 03 Februari 2019

PUTUS


Setiap awal, pasti akan ada akhirnya. Dan setiap kisah akan ada sebab yang mengawalinya. Begitu pula cerita tentang awal aku mulai menemukan titik jalan cinta, jalan yang sekarang telah kujalani. Jalan yang dengan penuh keyakinan di dalam diriku, bahwa jalan ini bisa mengantarkanku ke-Jannah-Nya. Jalan para perindu syurga. Jalan orang-orang yang saling bersama karena se-Iman.
Jika jalan itu tak pernah kutemukan, maka aku akan terus mencarinya. Meski harus menyeberangi lautan, mendaki pegunungan, dan mengejar asa. Tiada hal yang paling ingin kukejar, melainkan cinta Nya Allah SWT.
Setelah tamat SMA, aku melanjutkan studi ke salah satu perguruan tinggi di medan. Ketika itu, aku ingat betul janji awal kami pacaran. Jika salah satu kuliah, maka akan saling menunggu. Jika harus break, maka akan dilanjutkan setelah tamat dengan pernikahan.
Semester 1, aku tinggal di sekretariat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, atau sering disebut KAMMI. (hanya menjelaskan tempat saja, tapi tidak akan ada hubungannya dengan alur cerita, insyaAllah).
Tiba-tiba....... dapat sms....
“Bang, kita putus”
“Kok gitu?”
“Aku,... mau dijodohkan”
“Apa???? Dijodohkan???”
“Iya”
“Kok bisa?”
Setelah itu smsku tidak dibalas lagi.
“Serius?”
Tidak dibalas
“Dengan siapa?”
“Sepupu jauh”
“Oh... itu tidak bisa ditolak?”
“Inilah hal yang membuat yani bingung dan terpukul bang”
“Sampaikanlah, sampaikan kalau kamu tak siap”
“Tapi gimana lagi bang? Yani gak bisa menolak”
Ketika itu, sms dari nya tak kunjungku balas. Aku terpukul dan sangat terpukul. Seorang yang telah menjalani hari-hari bersamaku dalam beberapa tahu, akan dijodohkan. Ini sangat ironis dan menyebalkan. Saat itu aku langsung ketiduran. Tapi, begitu terbangun Hpku berpindah. Aku mulai curiga ketika itu.
“Siapa yang membuka hp ku ya?”
Keesokanharinya dapat sms lagi dari yani, setelah smsnya yang terakhir.
“Bang, alhamdulillah, perjodohan dibatalkan”
“Kok bisa?”
“Yani usahalah bang, memperjuangkan cinta kita”
“Alhamdulillah”
            Tapi, keesokan harinya aku diberikan pencerahan oleh seseorang yang sangat luar biasa. Hal yang disampaikanpun masuk akal dan bisa diterima. Itu sangat menggugah hatiku. Hal yang sangat luar biasa.
          “Setiap orang akan menemukan jodohnya, siapapun itu. Laki-laki yang baik akan diberikan jodoh wanita yang baik-baik, begitu pula sebaliknya. Laki-laki yang buruk akan diberikan jodoh wanita yang buruk, begitu pula sebaliknya”. Konteksnya bukan fisik, tapi akhlak dan keimanan.
            Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak berpacaran lagi. Untuk melepaskan semua rasa yang  telah pernah kurasa. Tapi, saat itu aku bingung. Karena dia telah memperjuangkan cinta, tapi aku melepaskannya.
            Tapi, cinta takkan pernah membawa kita ke jurang kehancuran. Cinta juga tidak akan menggiring kita ke dalam kemaksiatan. Karena itu, cinta akan membawa orang yang menikmati ke dalam jannah-Nya.

Sabtu, 02 Februari 2019

Dulu Pernah Pacaran


Hatiku tiba-tiba bergetar merasakan nikmat Allah yang begitu indah. Dapat menghirup udara yang segar, dan merasakan cuaca yang begitu teduh. Sembari mengenang masa laluku ketika aku sekolah. Tepatnya waktu itu aku masih kelas 1 SMA di kotaku, SMA Negeri terfavorit ketika itu di kotaku. Sekarang aku tak tahu lagi apakah masih ada istilah sekolah favorit.
Pada saat semester pertama. Aku merasa suka dengan seorang cewek, namanya putri. Dia merupakan salah satu orang yang baik hati di kelas. Dia sedikit hitam manis, gemuk dan pendek. Tapi aku suka. Entah apa sebab dan awal mulanya hal yang membuat aku bisa suka dengannya. Orang yang terlihat tidak cantik sama sekali.
Aku dan dia bisa bersahabat akrab di awal semester itu, tapi aku tak berani untuk mengungkapkan perasaanku. Aku merasa diriku adalah orang yang pengecut. Tak berani untuk mengungkapkan cinta kepadanya yang kusuka, padahal hanya bermodalkan bicara.
Tiba-tiba.
  Habiby, makan kantin yok” ajak putri.
“ Ha? Makan kantin? Emang lu bisa makan kantin?” jawabku.
“Maksudnya, makan di kantin lo” jelasnya.
“Yok, lagian aku uda lapar put” jawabku.
            Kamipun pergi ke kantin, teman- tapi mesra. Bersenda gurau melepas kepenatan habis pelajaran matematika. Setelah itu kami masuk ke dalam kelas sembari menunggu bel pulang sekolah. Perasaan yang ada di dalam hati semakin menggelora tanpa arah yang jelas. Entah kemana aku harus mengarahkan gerak hatiku. Saat itu, yang muncul dalam pikiranku bagaimana agar aku bisa jadian dengannya.
“Ya Allah, aku ingin dia, bagaimana caranya?”
“Haruskah aku langsung mengatakannya? Atau bagaimana ya Allah?”
“Perasaanku semakin menggelegar ya Allah”
Saat itu, langsung ku-sms putri.
“Put, ada yang mau aku omongin nih”
“Apa bib?”
“Ini hal yang menyangkut tentang perasaan put”
“Apa sih bib? Jangan bertele-tele deh”
“Aku suka ma kamu put”
“Gimana ya bib?”
“Kenapa put?”
“Nanti aku pikir-pikir dulu deh bib”
Keesokan harinya.
“Gimana put?”
Teringatnya ini uda ga melalui sms lagi, tapi live.
“Boleh, kita coba aja dulu”
“Alhamdulillah”
            Kami ke kantin seperti biasa, tiada yang istimewa dan tiada hal yang berbeda. Hanya sebatas perubahan status. Itu hanya sebentar saja ternyata, dia menerimaku hanya karena terpaksa. Siang itu, sebelum pulang sekolah kami putus. Hubungan yang singkat bukan? Ya, jelas saja. Aku merasa dipermainkan oleh sahabatku sendiri. Kalau memang tidak mau, harusnya dia tidak perlu berpura-pura mau. Hatiku terpecah-belah seakan dunia akan kiamat. Pulang ke rumah, dengan hati yang terhenyak dan sesak.
Tiada hari yang paling menyakitkan, selain dibohongi oleh sahabat sendiri.       
Sampai di rumah, aku malah diteror oleh emaknya si juli. Cewek yang pernah kukirimi surat cinta.
“Kalo kau mau sama anakku, datang kau ke rumah” dengan nada kasar.
            Perasaan sedihku bercampur cemas. Sungguh, aku merupakan orang yang paling pengecut dalam menjaga perasaan. Tapi ketika itu aku teringat dengan tetanggaku yang sedang pacaran dengan kakaknya si juli. Kuperhatikan tetanggaku itu seperti pembantu, bukan seperti calon menantu diperlakukan oleh orang tuanya. Alhasil, aku berusaha untuk melupakan hal yang terjadi hari ini.
          Melupakan hal yang tidak penting dalam hidup ini, terkadang akan terasa sulit. Namun, jika kita bisa,  akan membuat kita  menjadi lebih baik dari sebelumnya.
            Malam hari, masih dihari yang sama. Aku berangkat les bahasa inggris. Di sana aku berkenalan dengan seorang cewek.
“Namamu siapa?”
“Namaku Yani. Kamu?”
“Namaku Habiby”
 “Kamu kelas berapa yan?”
“Kelas 2”
“Ooooo”
“Tinggal dimana yan?”
            Perbincanganpun menjadi sangat panjang. Dinginnya kipas angin mengusik kulitku, menepis rambut pendekku. Di dalam ruangan itu, Kebetulan aku merupakan anak baru di tempat les itu. Sehingga, tiada hal yang harus kulakukan melainkan berkenalan dengan teman-teman baruku, terutama dengannya. Dimalam yang begitu terasa ramai, dalam pikirku dia mungkin sudah kelas 2 SMA.  Ternyata, apa yang ada di dalam benakku salah.  
Dia merupakan tetangga saudaraku. Dengan penuh rasa penasaran, aku terus menyelidiki dan mencari tahu segala tentangnya, ternyata dia anak pak Ali (nama ayahnya yani). Pak Ali tidak memunyai anak yang kelas 2 SMA. Yang ada kelas 2 MTs. Karena badannya yang lebih besar dari badanku, jadi aku mengira bahwa dia lebih tua dariku. Ternyata tidak.
            Dimalam berikutnya, penuh dengan perasaan yang mendalam, aku pun terus bertanya segalanya tentang dia. Apakah dia  SMA atau MTs.
“Yan, kamu sebenarnya SMA atau MTs sih?”
“Emangnya kenapa?”
“Seriuslah yan”
“Aku masih MTs”
“Ooooooo”
“Ga usah panjang kali habiby”
            Semenjak kami tukaran nomor HP, kami selalu berbalas-balasan SMS. Tiap pagi, siang, sore, dan malam bahkan aku lupa kapan aku tidak meng-sms dia.
            Pada suatu malam, aku iseng nge-sms yani. Aku tembak dia via sms, pakai bahasa inggris. Tepatnya pembahasaannya aku lupa seperti apa dulu. Tapi tak panjang cerita, dia langsung terima. Aku tidak menyangka, cewek secantik dia menerima cintaku. Padahal, aku hanya iseng awalnya. Tapi ini menjadi pengobat hatiku, setelah hatiku retak bertubi-tubi dan ambruk tak tersisa. Ternyata ia tersusun kembali menjadi rapi. Puing-puing yang hampir sirna pun kembali, kesedia kala. Aku belajar untuk mencintainya, seseorang yang tak pernah kuduga.
            Mencinta, ia hadir dengan kejutan. Tak pernah terduga bentuk dan kejadian ia bermula. Begitu ia muncul, hati akan terangkat. Cinta, tak selamanya ia karena pandangan pertama. Kehadirannya yang tak disangka-sangka, bisa jadi ia muncul dengan banyaknya intensitas pertemuan.
            Awan putih berlarian di langit yang biru, ia membuka mataku atas keterpanaan pada cinta. Diawal masa penjajakan berdua, hanya aku dan dia. Kami berpacaran layaknya seperti sahabat, kami tidak pernah pegangan tangan apalagi berpelukan. Saat itu kami hanya sms dan telponan. Berkendaraan satu sepeda motorpun tidak (Red Boncengan). Semua cerita cintaku terlewati dengan hati saja. Itu berlangsung dalam beberapa bulan.  Bulan-bulan berikutnya berbeda pula kisahnya. Masih dalam cinta yang sama, ya, dengannya.
Menjalani kisah cinta yang terasa indah saat itu. Penuh dengan kebahagiaan. Aku tertanya, kenapa dia langsung menerima cintaku. Ternyata, ada alasan kenapa dia menerima cintaku. Sebab, dia dari dulu memperhatikanku ketika aku ke rumah saudaraku.
            Masa itu, sebenarnya masa yang paling kusesali. Jika waktu itu aku tahu jikalau pacaran itu tidak boleh. Tentu aku tidak akan melakukannya. Meskipun pacaran yang kami alami tidak seperti orang lain pada umumnya. Ini kisah masih berlanjut, karena saat itu jalan cinta belum kutemukan. Berjuang untuk menemukan jalan yang itu, bukan merupakan hal yang tampak mudah. Butuh begitu banyak pengorbanan. Semoga bertemu dengan jalan itu. Semoga Allah pertemukanku dengan jalan cinta. Di jalan itu, akan kutemukan ridho-Mu.

Rabu, 11 April 2018

Prolog, Jalan Cinta

Terang cahaya hinggap di pelupuk mataku. Memberi silau tepat berada di retinaku. Sontak teringat dengan kisah-kisah yang pernah dijalani dalam hidup ini. Hidup yang sekilas tak ada sedikitpun keistimewaan.
Tak seperti kisah para nabi, penuh dengan ujian dan rintangan yang sangat berat. Ada yang ujiannya berupa penyakit yang begitu berat, ada pula ujian yang datang dari ketampanannya, tak sedikit dari para nabi yang ujiannya datang dari kaumnya. Itu kisah para nabi. Bukan hanya tentang ujian, kisah para nabi dan para pejuang islam juga dihiasi dengan cinta yang dilandasi karena Allah. Sekali lagi, begitulah kisah para nabi.
Penuh dengan keluarbiasaan, ujiannya dapat dijadikan hikmah; tantangan harus bisa dijadikan sebuah pelajaran. Begitulah kisah para nabi. Namun, setiap kisah pasti bisa diambil pelajaran. Hanya saja, ada yang dipenuhi hikmah, ada pula yang hanya memiliki segelintir hikmah.
Ini kisahku, kisahku dalam mencari jalan cinta. Jalan yang pasti tak semua orang akan melaluinya. Jalan cinta yang masih membuatku bertanya-tanya. Akupun tak tahu akankah bertahan jika sudah menemukannya. Jalan yang terkadang membuatku bingung, jalan yang selalu saja membuatku penasaran. Jalan yang penuh misteri yang ingin kucari jawabannya.
Ketenangan jiwa yang selama ini terus saja belum kutemukan. Akankah kutemukan jalan yang bisa memberi ketenangan ke dalam jiwaku. Ketenangan yang selalu kurindukan. Terang saja, jiwaku masih jauh dari ketenangan. Padahal jiwa tengah merindukan kedamaian dan keheningan. Tapi jalan cinta, aku yakin jika karena Allah pasti akan bertemu. Cepat atau lambat, semua sudah diatur oleh-Nya. Sebab takdir sudah ada goresan dan garisnya. Bukankah begitu? Semoga setiap perjalanan ada arti yang bermakna.
Kisah ini akan menjadi sebuah cerita tersendiri yang penuh makna. Mungkin kisah ini tidak akan begitu panjang dan semoga ada hikmah yang bisa ditemukan. Mungkin hanya sedikit hikmah yang bisa ditemukan, karena cahaya akan selalu ditutupi oleh kegelapan yang mendominasi. Aku, hanyalah sebuah kegelapan yang ingin menjadi terang. Tapi apalah dayaku seorang yang penuh dosa yang tak sedikitpun ada kesucian.
Betapa banyaknya dosa yang ada di dalam diri ini. Sangat banyak dan melimpah. Sehingga tiap saat yang kumiliki selalu kugunakan untuk memikirkan bagaimana agar aku bisa semakin mendekat kepada Allah.
Tiada hal yang paling ditakutkan, selain ketakutan akan bertambahnya dosa. Dosa yang akan membuat Allah murka kepadaku dan menjauh dariku. Tiada pula hal yang paling indah di dunia ini, selain semakin bertakwa kepada Allah. Tiada hal yang paling aku cintai, selain kecintaan kepada Allah. Dan tiada hal yang paling kuinginkan, selain dicintai oleh Allah.
Kerinduan yang panjang tak terbendung lagi. Tapi aku selalu merasakan semakin jauh dan menjauh. Dosa-dosaku terus saja bertambah dan semakin menghantui dalam setiap langkahku. Padahal, dalam setiap langkah hidup ini, Allah tetap saja memberikan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya, hanya saja kebanyakan dari kita yang tak pandai bersyukur. Malah kita selalu melakukan hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
Jalan cinta, akankah aku menemukan jalan cintaku. Jalan yang memberikan kesempatan padaku untuk mendekatkan diri kepada Allah. Aku khawatir jikalau nantinya aku tersesat di jalan yang salah. Sebab, banyak jalan-jalan yang saat ini penuh dengan kesesatan. Tapi rasa yakinku sangat menggelora, mengalahkan segalanya. Allah akan memberikan jalan kepada setiap hamba-Nya yang ingin menemukan jalan-Nya.
Jalan cinta, aku yakin Allah akan membimbingku untuk menemukan jalan cintaku. Jalan yang selama ini kucari, jalan cinta yang sesungguhnya. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang mendekati-Nya. Hal yang mustahil bagi Allah meninggalkan hamba-Nya yang ingin mencintai-Nya. Sedangkan orang yang tidak mencintai-Nya, selalu Allah berikan kasih. Maka untuk orang-orang yang mencintai-Nya akan diberikan kasih dan sayang. Aku yakin hal itu. Karena Allah tak kan pernah salah.

“Kapan Nikah?”

Kalimat pertanyaan itu selalu muncul dan terdengar di telinga yusuf. Untuk lelaki semuda yusuf, sebenarnya tidak masalah baginya menangguhkan untuk melenggang ke pelaminan. Pasalnya usianya masih sangat muda, 22 tahun. Walau diluar sana banyak orang yang bahkan lebih muda dari yusuf mengakhiri masa lajangnya.
“Pak, apa lagi? Kapan nikah?”
Yusuf hanya bisa tersenyum.
“Jangan senyum-senyum saja pak yusuf.”
“InsyaAllah secepatnya pak. Kalau sudah waktunya, insyaAllah akan menikah pak.”
“Itu ada bu mawar yang masih jomblo.”
Lagi-lagi yusuf melontarkan senyumnya.
“Bapak ganteng, uang banyak, apa lagi yang mau ditunggu?”
Untuk yang kesekian kalinya yusuf hanya bisa memberikan senyuman, dan bergumam di dalam hati.
“Waduh, ini bapak. Kaya dari mana? Ganteng dari mana?”
Dalam sabarnya, yusuf senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik. Melanjutkan studi atau menikah. Karena menurutnya, tiada manusia yang tidak ingin menikah.
Tepat sebelum akad nikah kakak yusuf, rencana pulang kampung pun sudah dibuat. Dengan cepatnya kereta yang membawa para penumpang hingga yusuf sampai di kota kelahirannya. Kota balai namanya. Yusuf pun turun dari kereta.
“Wah, buyah dimana ya? Telpon ga ada pulsa. Miscall aja deh.”
Yusuf berharap ditelpon balik. Beberapa detik setelah yusuf memiscall, buyah pun kembali menelponnya.
“Dimana suf? Kami dengan supermarket ya.”
“Yang sebelah kanan atau kiri?”
“Kiri.”
Yusuf sedikit kaget, beliau dijeput naik mobil. Jarang-jarang orang tuanya menjeputnya naik mobil. Biasanya hanya naik motor. Yusuf memeluk buyah dan uminya, seraya berkata.
“Rindu.”
“Dasar manja.” Bisik umi.
“Biarin. Mi, kan kakak bentar lagi menikah. habis dia,  saya lah ya!”
“Ntar, kamu nikahnya diusia 25 tahun saja.”
“Kok gitu?”
“Ga papa, kan belum mapan juga.”
“Yaelah, nunggu mapan. Kapan saya nikah. Lagian, pengennya sama-sama berjuang dengan istri nantinya.” Gerutu yusuf dalam hati.
Dalam penantian panjang, yusuf bersedih. Bertindak selayaknya orang yang labil. Mendiamkan orang tuanya sebab tak merestui ia menikah.
“Aku, sedang sakit bathin. Kenapa sulit rasanya untuk mendapatkan restu dari orang tuaku.”’
Hari demi hari silih berganti. Yusuf tetap cuek dan seolah tidak peduli dengan orang tuanya. Meski begitu, itu merupakan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan olehnya sendiri. Sehingga, dia butuh waktu untuk menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi.


Jumat, 24 Februari 2017

Hijrah Yusuf

Terbangun dari mimpi buruknya, yusuf bergegas mengambil wudhu. Menenangkan diri dan pikiran dari setiap keburukan-keburukan yang muncul. Ketika gelisah menjelma di dalam raga, resah pun mulai menggelora.
“Apa maksud mimpiku ya. Semoga tidak ada arti apa-apa. Tapi kenapa mimpi itu menghampiriku? Kenapa mimpi tentang masa kelamku membuatku menggigil seperti ini?”
Yusuf melancarkan istighfar ditiap ucap mulutnya. Teringat dengan masa lalunya yang begitu kelam. Masa-masa yang selalu ingin dilupakannya. Dia berharap tak pernah terjerumus dalam kelamnya kehidupan.
Seraya menadahkan kedua tangannya.
“Ya Allah, jangan biarkan aku kembali ke masa laluku yang kelam. Aku tak ingin kembali ke masa itu ya Allah. Mengingatnya saja, hamba sangat jijik ya Allah. Bahkan hamba terkadang membenci diri hamba ya Allah.”
Sambil meneteskan air matanya. Dalam peraduan ia merindu, merindukan kasih sayang Illahi. Sebab, baru ia mendapatkan hidayah dan mencoba untuk berhijrah. Tetiba ia bermimpi kembali ke masa dulu. Hingga air matanya mengalir semakin deras.
Hape yusuf berdering.
“Assalamu’alaikum suf, sehat adinda?”
“Wa’alaikum salam abangda, saya sehat. Abang bagaimana?”
“Abang sehat dek. Bisa ntar malam datang ke rumah abang?”
“Ngapain bang? Kalau ga ada halangan, insyaAllah saya datang bang.”
“Setelah sholat isya aja ya!”
“Oke bang.”
Sesampainya di  rumah bang Irwan.
“Suf, teringatnya tentang masa lalumu. Sudah amankan?”
“InsyaAllah bang. Cuman, tadi malam saya mimpi tentang masa kelam saya bang. Kok pas kali dengan kejadian ini ya bang?”
“Iya nya? Oh iya. Semoga tetap istiqamah ya dek ya.”
“Oke bang.”
“Dek, apa sekarang rencana?”
“Sekarang mengajar aja dulu bang. Insya Allah entar S2.”
“Wah, bagus tuh. Mau lanjut S2 kemana dek?”
“InsyaAllah di jawa. Belum fiks bang.”
“Eh, ini ada perempuan yang demen sama kamu. Kamu mau nikah sekarang ga?”
“Saya mau saja sih bang. Cuma.”
“Cuma apa?”
“Uda ada janji ma orang tua bang. Habis S2 dulu baru mikiri ke arah sana. Kalau ditanya, mau nikah. Mau kali lah bang.”
“Mantap.”
Sambil melanjutkan pembicaraan mereka.
“Bang, saya pamit lah ya bang. Jazakallah atas nasihat-nasihatnya. Walaupun ketika mengingat dan teringat masa lalu membuat saya benci dengan diri saya sendiri bang.”
“Tetap semangat ya. Maaf kalau pertanyaan abang tentang masa lalumu membuatmu terniang dan teringat.”
“Iya bang. Yah, namanya masa lalu. Harus ditinggalkan bukan? Masa lalu jadi pelajaran yang berharga. Jalani masa kini, untuk menyongsong masa depan gemilang. Hehe.”
“Kamu ya, serasa lagi visi misi.”
“Maklum bang, lagi semangat-semangatnya hijrah. Terkadang, dosa yang lalu bisa menjadi motivasi untuk berbuat kebaikan dengan lebih dan lebih loh bang.”
“Sip dah.”
“Pulang saya ya bang.”
“Hati-hati ya.”
“Oke bang.”
Saat yusuf menghempaskan badan di kasur kesayangannya.
“Ya Allah, kenapa dosa itu kembali menghantuiku.”
Air mata menetes perlahan membasahi pipinya.
“Bahkan bang irwan pun seolah memiliki koneksi dengan arus yang menyambung ke dalam mimpiku.”
Air matanya mengalir semakin deras.
“Hamba takut ya Allah. Kuatkan daku, agar bisa terus istiqamah di jalan-Mu.”

Menangis sambil terisak-isak, dalam peraduan antara hijrah dan mengenang masa kelam.