This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 11 April 2018

Prolog, Jalan Cinta

Terang cahaya hinggap di pelupuk mataku. Memberi silau tepat berada di retinaku. Sontak teringat dengan kisah-kisah yang pernah dijalani dalam hidup ini. Hidup yang sekilas tak ada sedikitpun keistimewaan.
Tak seperti kisah para nabi, penuh dengan ujian dan rintangan yang sangat berat. Ada yang ujiannya berupa penyakit yang begitu berat, ada pula ujian yang datang dari ketampanannya, tak sedikit dari para nabi yang ujiannya datang dari kaumnya. Itu kisah para nabi. Bukan hanya tentang ujian, kisah para nabi dan para pejuang islam juga dihiasi dengan cinta yang dilandasi karena Allah. Sekali lagi, begitulah kisah para nabi.
Penuh dengan keluarbiasaan, ujiannya dapat dijadikan hikmah; tantangan harus bisa dijadikan sebuah pelajaran. Begitulah kisah para nabi. Namun, setiap kisah pasti bisa diambil pelajaran. Hanya saja, ada yang dipenuhi hikmah, ada pula yang hanya memiliki segelintir hikmah.
Ini kisahku, kisahku dalam mencari jalan cinta. Jalan yang pasti tak semua orang akan melaluinya. Jalan cinta yang masih membuatku bertanya-tanya. Akupun tak tahu akankah bertahan jika sudah menemukannya. Jalan yang terkadang membuatku bingung, jalan yang selalu saja membuatku penasaran. Jalan yang penuh misteri yang ingin kucari jawabannya.
Ketenangan jiwa yang selama ini terus saja belum kutemukan. Akankah kutemukan jalan yang bisa memberi ketenangan ke dalam jiwaku. Ketenangan yang selalu kurindukan. Terang saja, jiwaku masih jauh dari ketenangan. Padahal jiwa tengah merindukan kedamaian dan keheningan. Tapi jalan cinta, aku yakin jika karena Allah pasti akan bertemu. Cepat atau lambat, semua sudah diatur oleh-Nya. Sebab takdir sudah ada goresan dan garisnya. Bukankah begitu? Semoga setiap perjalanan ada arti yang bermakna.
Kisah ini akan menjadi sebuah cerita tersendiri yang penuh makna. Mungkin kisah ini tidak akan begitu panjang dan semoga ada hikmah yang bisa ditemukan. Mungkin hanya sedikit hikmah yang bisa ditemukan, karena cahaya akan selalu ditutupi oleh kegelapan yang mendominasi. Aku, hanyalah sebuah kegelapan yang ingin menjadi terang. Tapi apalah dayaku seorang yang penuh dosa yang tak sedikitpun ada kesucian.
Betapa banyaknya dosa yang ada di dalam diri ini. Sangat banyak dan melimpah. Sehingga tiap saat yang kumiliki selalu kugunakan untuk memikirkan bagaimana agar aku bisa semakin mendekat kepada Allah.
Tiada hal yang paling ditakutkan, selain ketakutan akan bertambahnya dosa. Dosa yang akan membuat Allah murka kepadaku dan menjauh dariku. Tiada pula hal yang paling indah di dunia ini, selain semakin bertakwa kepada Allah. Tiada hal yang paling aku cintai, selain kecintaan kepada Allah. Dan tiada hal yang paling kuinginkan, selain dicintai oleh Allah.
Kerinduan yang panjang tak terbendung lagi. Tapi aku selalu merasakan semakin jauh dan menjauh. Dosa-dosaku terus saja bertambah dan semakin menghantui dalam setiap langkahku. Padahal, dalam setiap langkah hidup ini, Allah tetap saja memberikan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya, hanya saja kebanyakan dari kita yang tak pandai bersyukur. Malah kita selalu melakukan hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
Jalan cinta, akankah aku menemukan jalan cintaku. Jalan yang memberikan kesempatan padaku untuk mendekatkan diri kepada Allah. Aku khawatir jikalau nantinya aku tersesat di jalan yang salah. Sebab, banyak jalan-jalan yang saat ini penuh dengan kesesatan. Tapi rasa yakinku sangat menggelora, mengalahkan segalanya. Allah akan memberikan jalan kepada setiap hamba-Nya yang ingin menemukan jalan-Nya.
Jalan cinta, aku yakin Allah akan membimbingku untuk menemukan jalan cintaku. Jalan yang selama ini kucari, jalan cinta yang sesungguhnya. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang mendekati-Nya. Hal yang mustahil bagi Allah meninggalkan hamba-Nya yang ingin mencintai-Nya. Sedangkan orang yang tidak mencintai-Nya, selalu Allah berikan kasih. Maka untuk orang-orang yang mencintai-Nya akan diberikan kasih dan sayang. Aku yakin hal itu. Karena Allah tak kan pernah salah.

“Kapan Nikah?”

Kalimat pertanyaan itu selalu muncul dan terdengar di telinga yusuf. Untuk lelaki semuda yusuf, sebenarnya tidak masalah baginya menangguhkan untuk melenggang ke pelaminan. Pasalnya usianya masih sangat muda, 22 tahun. Walau diluar sana banyak orang yang bahkan lebih muda dari yusuf mengakhiri masa lajangnya.
“Pak, apa lagi? Kapan nikah?”
Yusuf hanya bisa tersenyum.
“Jangan senyum-senyum saja pak yusuf.”
“InsyaAllah secepatnya pak. Kalau sudah waktunya, insyaAllah akan menikah pak.”
“Itu ada bu mawar yang masih jomblo.”
Lagi-lagi yusuf melontarkan senyumnya.
“Bapak ganteng, uang banyak, apa lagi yang mau ditunggu?”
Untuk yang kesekian kalinya yusuf hanya bisa memberikan senyuman, dan bergumam di dalam hati.
“Waduh, ini bapak. Kaya dari mana? Ganteng dari mana?”
Dalam sabarnya, yusuf senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik. Melanjutkan studi atau menikah. Karena menurutnya, tiada manusia yang tidak ingin menikah.
Tepat sebelum akad nikah kakak yusuf, rencana pulang kampung pun sudah dibuat. Dengan cepatnya kereta yang membawa para penumpang hingga yusuf sampai di kota kelahirannya. Kota balai namanya. Yusuf pun turun dari kereta.
“Wah, buyah dimana ya? Telpon ga ada pulsa. Miscall aja deh.”
Yusuf berharap ditelpon balik. Beberapa detik setelah yusuf memiscall, buyah pun kembali menelponnya.
“Dimana suf? Kami dengan supermarket ya.”
“Yang sebelah kanan atau kiri?”
“Kiri.”
Yusuf sedikit kaget, beliau dijeput naik mobil. Jarang-jarang orang tuanya menjeputnya naik mobil. Biasanya hanya naik motor. Yusuf memeluk buyah dan uminya, seraya berkata.
“Rindu.”
“Dasar manja.” Bisik umi.
“Biarin. Mi, kan kakak bentar lagi menikah. habis dia,  saya lah ya!”
“Ntar, kamu nikahnya diusia 25 tahun saja.”
“Kok gitu?”
“Ga papa, kan belum mapan juga.”
“Yaelah, nunggu mapan. Kapan saya nikah. Lagian, pengennya sama-sama berjuang dengan istri nantinya.” Gerutu yusuf dalam hati.
Dalam penantian panjang, yusuf bersedih. Bertindak selayaknya orang yang labil. Mendiamkan orang tuanya sebab tak merestui ia menikah.
“Aku, sedang sakit bathin. Kenapa sulit rasanya untuk mendapatkan restu dari orang tuaku.”’
Hari demi hari silih berganti. Yusuf tetap cuek dan seolah tidak peduli dengan orang tuanya. Meski begitu, itu merupakan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan olehnya sendiri. Sehingga, dia butuh waktu untuk menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi.