Dalam
heningku, tiap detikku terasa pilu yang berdentang dan menyakitkan. Gemetar
sang qalbu menyayat lara dan menghancurkan segala hasrat. Jiwa kemilu, merendah
dan melayu. Dengan gamblang terlihat rusaknya suasana jiwa dan hati. Tiap
memandang terlihat sinis tajamnya kehidupan. Menggelorakan perasaanpun terasa
sajak yang salah. Ekspresi jiwa kian meruntuh dibantai sang badai. Kemelut jiwa
terasa goyah, begitulah kemelut hidup. Saat hati terasa jauh dari-Nya. Hingga
cinta salah rasakan.
Dalam
sendiri kadang ku hampa. Merasakan kekosongan dalam sang jiwa. Entah rindu,
entah cinta, atau aku tak mengerti apa yang tengah dirasa. Dalam sepi, aku
termenung, merenungi atas apa yang telah diperbuat sang hati, sang raga, dan
sang akal selama hidup ini. Hempas rasanya hidup ini, tak mengerti dengan arti
kebahagiaan yang sesungguhnya. Kelak, harus menemukan jawaban untuk sang hati,
untuk apa aku ada di dunia ini.
Dalam
jiwa terasa panas, ingin membakar seluruh rasa dan dosa. Entahlah, begitu
banyak dosa yang telah diperbuat. Ingin memperbaiki, tak tahu dimulai dari
mana. Dosaku, tak terbilang jumlahnya. Hingga akal ini takut, takut akan
kematian. Tak siap jika harus dipanggil sang pemilik jiwa. Sementara dosa kian
bertambah. Dalam rinai ini, tetapku berjuang untuk menghapus dosa-dosaku,
bagaimana caranya? Meraih ridho-Nya merupakan jalan satu-satunya, mendapatkan
cinta-Nya adalah jalan ringkas namun lama. Membutuhkan proses yang sangat
panjang.
Dosaku,
ah sudahlah, aku selalu ketakutan jika memikirkan setiap dosaku. Aku takut,
jika aku terus berkubang dalam dosa-dosaku. Aku takut, aku takut dosaku terus
menghantuiku. Aku berusaha agar sang hati mampu menenangkan diri.






0 komentar:
Posting Komentar