Rabu, 11 April 2018

Prolog, Jalan Cinta

Terang cahaya hinggap di pelupuk mataku. Memberi silau tepat berada di retinaku. Sontak teringat dengan kisah-kisah yang pernah dijalani dalam hidup ini. Hidup yang sekilas tak ada sedikitpun keistimewaan.
Tak seperti kisah para nabi, penuh dengan ujian dan rintangan yang sangat berat. Ada yang ujiannya berupa penyakit yang begitu berat, ada pula ujian yang datang dari ketampanannya, tak sedikit dari para nabi yang ujiannya datang dari kaumnya. Itu kisah para nabi. Bukan hanya tentang ujian, kisah para nabi dan para pejuang islam juga dihiasi dengan cinta yang dilandasi karena Allah. Sekali lagi, begitulah kisah para nabi.
Penuh dengan keluarbiasaan, ujiannya dapat dijadikan hikmah; tantangan harus bisa dijadikan sebuah pelajaran. Begitulah kisah para nabi. Namun, setiap kisah pasti bisa diambil pelajaran. Hanya saja, ada yang dipenuhi hikmah, ada pula yang hanya memiliki segelintir hikmah.
Ini kisahku, kisahku dalam mencari jalan cinta. Jalan yang pasti tak semua orang akan melaluinya. Jalan cinta yang masih membuatku bertanya-tanya. Akupun tak tahu akankah bertahan jika sudah menemukannya. Jalan yang terkadang membuatku bingung, jalan yang selalu saja membuatku penasaran. Jalan yang penuh misteri yang ingin kucari jawabannya.
Ketenangan jiwa yang selama ini terus saja belum kutemukan. Akankah kutemukan jalan yang bisa memberi ketenangan ke dalam jiwaku. Ketenangan yang selalu kurindukan. Terang saja, jiwaku masih jauh dari ketenangan. Padahal jiwa tengah merindukan kedamaian dan keheningan. Tapi jalan cinta, aku yakin jika karena Allah pasti akan bertemu. Cepat atau lambat, semua sudah diatur oleh-Nya. Sebab takdir sudah ada goresan dan garisnya. Bukankah begitu? Semoga setiap perjalanan ada arti yang bermakna.
Kisah ini akan menjadi sebuah cerita tersendiri yang penuh makna. Mungkin kisah ini tidak akan begitu panjang dan semoga ada hikmah yang bisa ditemukan. Mungkin hanya sedikit hikmah yang bisa ditemukan, karena cahaya akan selalu ditutupi oleh kegelapan yang mendominasi. Aku, hanyalah sebuah kegelapan yang ingin menjadi terang. Tapi apalah dayaku seorang yang penuh dosa yang tak sedikitpun ada kesucian.
Betapa banyaknya dosa yang ada di dalam diri ini. Sangat banyak dan melimpah. Sehingga tiap saat yang kumiliki selalu kugunakan untuk memikirkan bagaimana agar aku bisa semakin mendekat kepada Allah.
Tiada hal yang paling ditakutkan, selain ketakutan akan bertambahnya dosa. Dosa yang akan membuat Allah murka kepadaku dan menjauh dariku. Tiada pula hal yang paling indah di dunia ini, selain semakin bertakwa kepada Allah. Tiada hal yang paling aku cintai, selain kecintaan kepada Allah. Dan tiada hal yang paling kuinginkan, selain dicintai oleh Allah.
Kerinduan yang panjang tak terbendung lagi. Tapi aku selalu merasakan semakin jauh dan menjauh. Dosa-dosaku terus saja bertambah dan semakin menghantui dalam setiap langkahku. Padahal, dalam setiap langkah hidup ini, Allah tetap saja memberikan cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya, hanya saja kebanyakan dari kita yang tak pandai bersyukur. Malah kita selalu melakukan hal-hal yang dibenci dan dimurkai oleh Allah.
Jalan cinta, akankah aku menemukan jalan cintaku. Jalan yang memberikan kesempatan padaku untuk mendekatkan diri kepada Allah. Aku khawatir jikalau nantinya aku tersesat di jalan yang salah. Sebab, banyak jalan-jalan yang saat ini penuh dengan kesesatan. Tapi rasa yakinku sangat menggelora, mengalahkan segalanya. Allah akan memberikan jalan kepada setiap hamba-Nya yang ingin menemukan jalan-Nya.
Jalan cinta, aku yakin Allah akan membimbingku untuk menemukan jalan cintaku. Jalan yang selama ini kucari, jalan cinta yang sesungguhnya. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang mendekati-Nya. Hal yang mustahil bagi Allah meninggalkan hamba-Nya yang ingin mencintai-Nya. Sedangkan orang yang tidak mencintai-Nya, selalu Allah berikan kasih. Maka untuk orang-orang yang mencintai-Nya akan diberikan kasih dan sayang. Aku yakin hal itu. Karena Allah tak kan pernah salah.

0 komentar:

Posting Komentar