Jumat, 24 Februari 2017

Hijrah Yusuf

Terbangun dari mimpi buruknya, yusuf bergegas mengambil wudhu. Menenangkan diri dan pikiran dari setiap keburukan-keburukan yang muncul. Ketika gelisah menjelma di dalam raga, resah pun mulai menggelora.
“Apa maksud mimpiku ya. Semoga tidak ada arti apa-apa. Tapi kenapa mimpi itu menghampiriku? Kenapa mimpi tentang masa kelamku membuatku menggigil seperti ini?”
Yusuf melancarkan istighfar ditiap ucap mulutnya. Teringat dengan masa lalunya yang begitu kelam. Masa-masa yang selalu ingin dilupakannya. Dia berharap tak pernah terjerumus dalam kelamnya kehidupan.
Seraya menadahkan kedua tangannya.
“Ya Allah, jangan biarkan aku kembali ke masa laluku yang kelam. Aku tak ingin kembali ke masa itu ya Allah. Mengingatnya saja, hamba sangat jijik ya Allah. Bahkan hamba terkadang membenci diri hamba ya Allah.”
Sambil meneteskan air matanya. Dalam peraduan ia merindu, merindukan kasih sayang Illahi. Sebab, baru ia mendapatkan hidayah dan mencoba untuk berhijrah. Tetiba ia bermimpi kembali ke masa dulu. Hingga air matanya mengalir semakin deras.
Hape yusuf berdering.
“Assalamu’alaikum suf, sehat adinda?”
“Wa’alaikum salam abangda, saya sehat. Abang bagaimana?”
“Abang sehat dek. Bisa ntar malam datang ke rumah abang?”
“Ngapain bang? Kalau ga ada halangan, insyaAllah saya datang bang.”
“Setelah sholat isya aja ya!”
“Oke bang.”
Sesampainya di  rumah bang Irwan.
“Suf, teringatnya tentang masa lalumu. Sudah amankan?”
“InsyaAllah bang. Cuman, tadi malam saya mimpi tentang masa kelam saya bang. Kok pas kali dengan kejadian ini ya bang?”
“Iya nya? Oh iya. Semoga tetap istiqamah ya dek ya.”
“Oke bang.”
“Dek, apa sekarang rencana?”
“Sekarang mengajar aja dulu bang. Insya Allah entar S2.”
“Wah, bagus tuh. Mau lanjut S2 kemana dek?”
“InsyaAllah di jawa. Belum fiks bang.”
“Eh, ini ada perempuan yang demen sama kamu. Kamu mau nikah sekarang ga?”
“Saya mau saja sih bang. Cuma.”
“Cuma apa?”
“Uda ada janji ma orang tua bang. Habis S2 dulu baru mikiri ke arah sana. Kalau ditanya, mau nikah. Mau kali lah bang.”
“Mantap.”
Sambil melanjutkan pembicaraan mereka.
“Bang, saya pamit lah ya bang. Jazakallah atas nasihat-nasihatnya. Walaupun ketika mengingat dan teringat masa lalu membuat saya benci dengan diri saya sendiri bang.”
“Tetap semangat ya. Maaf kalau pertanyaan abang tentang masa lalumu membuatmu terniang dan teringat.”
“Iya bang. Yah, namanya masa lalu. Harus ditinggalkan bukan? Masa lalu jadi pelajaran yang berharga. Jalani masa kini, untuk menyongsong masa depan gemilang. Hehe.”
“Kamu ya, serasa lagi visi misi.”
“Maklum bang, lagi semangat-semangatnya hijrah. Terkadang, dosa yang lalu bisa menjadi motivasi untuk berbuat kebaikan dengan lebih dan lebih loh bang.”
“Sip dah.”
“Pulang saya ya bang.”
“Hati-hati ya.”
“Oke bang.”
Saat yusuf menghempaskan badan di kasur kesayangannya.
“Ya Allah, kenapa dosa itu kembali menghantuiku.”
Air mata menetes perlahan membasahi pipinya.
“Bahkan bang irwan pun seolah memiliki koneksi dengan arus yang menyambung ke dalam mimpiku.”
Air matanya mengalir semakin deras.
“Hamba takut ya Allah. Kuatkan daku, agar bisa terus istiqamah di jalan-Mu.”

Menangis sambil terisak-isak, dalam peraduan antara hijrah dan mengenang masa kelam.

0 komentar:

Posting Komentar