Terbangun dari mimpi
buruknya, yusuf bergegas mengambil wudhu. Menenangkan diri dan pikiran dari
setiap keburukan-keburukan yang muncul. Ketika gelisah menjelma di dalam raga,
resah pun mulai menggelora.
“Apa maksud mimpiku
ya. Semoga tidak ada arti apa-apa. Tapi kenapa mimpi itu menghampiriku? Kenapa
mimpi tentang masa kelamku membuatku menggigil seperti ini?”
Yusuf melancarkan
istighfar ditiap ucap mulutnya. Teringat dengan masa lalunya yang begitu kelam.
Masa-masa yang selalu ingin dilupakannya. Dia berharap tak pernah terjerumus
dalam kelamnya kehidupan.
Seraya menadahkan
kedua tangannya.
“Ya Allah, jangan
biarkan aku kembali ke masa laluku yang kelam. Aku tak ingin kembali ke masa
itu ya Allah. Mengingatnya saja, hamba sangat jijik ya Allah. Bahkan hamba
terkadang membenci diri hamba ya Allah.”
Sambil meneteskan
air matanya. Dalam peraduan ia merindu, merindukan kasih sayang Illahi. Sebab,
baru ia mendapatkan hidayah dan mencoba untuk berhijrah. Tetiba ia bermimpi
kembali ke masa dulu. Hingga air matanya mengalir semakin deras.
Hape yusuf
berdering.
“Assalamu’alaikum
suf, sehat adinda?”
“Wa’alaikum salam
abangda, saya sehat. Abang bagaimana?”
“Abang sehat dek.
Bisa ntar malam datang ke rumah abang?”
“Ngapain bang? Kalau
ga ada halangan, insyaAllah saya datang bang.”
“Setelah sholat isya
aja ya!”
“Oke bang.”
Sesampainya di rumah bang Irwan.
“Suf, teringatnya
tentang masa lalumu. Sudah amankan?”
“InsyaAllah bang.
Cuman, tadi malam saya mimpi tentang masa kelam saya bang. Kok pas kali dengan kejadian
ini ya bang?”
“Iya nya? Oh iya.
Semoga tetap istiqamah ya dek ya.”
“Oke bang.”
“Dek, apa sekarang
rencana?”
“Sekarang mengajar
aja dulu bang. Insya Allah entar S2.”
“Wah, bagus tuh. Mau
lanjut S2 kemana dek?”
“InsyaAllah di jawa.
Belum fiks bang.”
“Eh, ini ada
perempuan yang demen sama kamu. Kamu mau nikah sekarang ga?”
“Saya mau saja sih
bang. Cuma.”
“Cuma apa?”
“Uda ada janji ma
orang tua bang. Habis S2 dulu baru mikiri ke arah sana. Kalau ditanya, mau
nikah. Mau kali lah bang.”
“Mantap.”
Sambil melanjutkan
pembicaraan mereka.
“Bang, saya pamit
lah ya bang. Jazakallah atas nasihat-nasihatnya. Walaupun ketika mengingat dan
teringat masa lalu membuat saya benci dengan diri saya sendiri bang.”
“Tetap semangat ya.
Maaf kalau pertanyaan abang tentang masa lalumu membuatmu terniang dan
teringat.”
“Iya bang. Yah,
namanya masa lalu. Harus ditinggalkan bukan? Masa lalu jadi pelajaran yang
berharga. Jalani masa kini, untuk menyongsong masa depan gemilang. Hehe.”
“Kamu ya, serasa
lagi visi misi.”
“Maklum bang, lagi
semangat-semangatnya hijrah. Terkadang, dosa yang lalu bisa menjadi motivasi
untuk berbuat kebaikan dengan lebih dan lebih loh bang.”
“Sip dah.”
“Pulang saya ya
bang.”
“Hati-hati ya.”
“Oke bang.”
Saat yusuf
menghempaskan badan di kasur kesayangannya.
“Ya Allah, kenapa
dosa itu kembali menghantuiku.”
Air mata menetes
perlahan membasahi pipinya.
“Bahkan bang irwan
pun seolah memiliki koneksi dengan arus yang menyambung ke dalam mimpiku.”
Air matanya mengalir
semakin deras.
“Hamba takut ya
Allah. Kuatkan daku, agar bisa terus istiqamah di jalan-Mu.”
Menangis sambil
terisak-isak, dalam peraduan antara hijrah dan mengenang masa kelam.






0 komentar:
Posting Komentar