Duhai cintaku, tahukah kalian bahwa menjadi guru
bukanlah hal yang mudah. Tak semua orang pula ingin menjadi guru. Sebab,
menjadi seorang guru memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Tanggung jawab
yang diamanahkan oleh orang tua-orang tua siswa yang menghantarkan anaknya ke
sekolah. Tanggung jawab dalam proses pembelajaran. Tanggung jawab untuk
membentuk karakter anak. Bukankah harusnya menjadi seorang guru seperti itu?
Duhai cintaku, menjadi guru bukanlah pekerjaan yang
mudah. Mungkin di luar sana, ada banyak pekerjaan yang akan menanti. Yang
penghasilannya akan lebih besar dibanding menjadi guru. Sebab menjadi guru
takkan pernah kaya, tapi ada cinta disetiap tatapan yang diberikan.
Duhai cintaku, dengan penghasilan yang pas-pasan.
Tiap guru tetap saja menikmati hidupnya sebagai guru. Mereka terus saja
bersabar dalam tiap menghadapi tingkah siswanya, belum lagi menghadapi sikap
orang tua yang berlebihan terhadap apa yang dilakukan guru. Padahal, harusnya
orang tua mendukung setiap apa yang dilakukan guru. Sebab, yang kutahu guru akan
mendidik dengan cara yang terbaik.
Duhai cintaku,pernahkah kalian menghargai setiap
suara yang diberikan oleh guru kalian. Mungkin di kampusnya, gurumu menjadi
orang yang paling didengarkan oleh mahasiswa lainnya. Tapi kamu? Berteriak
sesuka hatimu di hadapan guru-gurumu. Apakah tak wajar guru harus marah ketika
orang yang dicintainya mempermainkannya? Apakah guru harus sabar ketika orang
yang ia cintai lebih dari ia mencintai dirinya sendiri menyakiti hati sang
guru?
Duhai cintaku, marahnya guru adalah bentuk cintanya
yang terbungkus dalam rupa yang tidak baik. Walau terkadang cinta tak selamanya
terlihat indah. Tapi jika kamu mengerti, semakin sayang aku dan semakin cinta
aku padamu, maka layaklah aku marah. Itu berarti aku masih mau memerdulikanmu.
Duhai cintaku, sampaikan kepada orang tuamu. Tiap
guru mencintai siswanya. Jika tiba suatu saat nanti, kau tidak diperdulikan
oleh gurumu lagi. Itu menunjukkan bahwa cinta sang guru terhadapmu mulai
memudar. Walaupun, sang guru akan tetap berusaha kembali mencintamu.
Duhai cintaku, pernahkah kamu berpikir satu kali
saja bahwa sanya sakitnya menjadi seseorang yang tak melakukan apa-apa, tapi
dibenci? Pernahkah kamu melewati gurumu, tidak menyapa, malah mengucilkannya?
Jika pernah, memohonlah ampun kepada Allah. Sungguh itu tidak baik diperbuat.
Duhai cintaku, mengapa aku mencintaimu? Sebab, aku
melihat masa depan di setiap sudut matamu. Jika aku harus berjuang untukmu dan
memperjuangkanmu. Apakah layak kamu menjatuhkanku ketika aku berjuang untuk
membangkitkanmu?
Duhai cintaku, aku ingin mencintaimu setulus hatiku.
Bukan dengan membanting meja dan kursi, memukul papan tulis dan melempar
penghapus. Walau penghapus sengaja di lempar tak tepat sasaran.
Duhai cintaku, terkadang aku lelah mencintaimu.
Apakah tak wajar ketika engkau tak menghargaiku, aku memberikan hukuman padamu?
Sampaikan pada orang tuamu sayangku, jika aku tidak boleh menyentuhmu bagaimana
aku bisa mendidikmu? Apakah orang tuamu mau menggantikan aku untuk mendidikmu
dan teman-temanmu di sekolah? Jika iya, aku rela.
Duhai cintaku, terkadang aku kepikiran dari setelah
keluar kelas sampai keesokan harinya. Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu
menjadi lebih baik. Aku terlalu sering membingung di dalam hidupku. Tak
lelahkah engkau menambah-nambahi bentuk kebingungan dalam hidupku.
\









