Sabtu, 24 Desember 2016

Catatan Hati Seorang Guru

Duhai cintaku, tahukah kalian bahwa menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Tak semua orang pula ingin menjadi guru. Sebab, menjadi seorang guru memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Tanggung jawab yang diamanahkan oleh orang tua-orang tua siswa yang menghantarkan anaknya ke sekolah. Tanggung jawab dalam proses pembelajaran. Tanggung jawab untuk membentuk karakter anak. Bukankah harusnya menjadi seorang guru seperti itu?
Duhai cintaku, menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Mungkin di luar sana, ada banyak pekerjaan yang akan menanti. Yang penghasilannya akan lebih besar dibanding menjadi guru. Sebab menjadi guru takkan pernah kaya, tapi ada cinta disetiap tatapan yang diberikan.
Duhai cintaku, dengan penghasilan yang pas-pasan. Tiap guru tetap saja menikmati hidupnya sebagai guru. Mereka terus saja bersabar dalam tiap menghadapi tingkah siswanya, belum lagi menghadapi sikap orang tua yang berlebihan terhadap apa yang dilakukan guru. Padahal, harusnya orang tua mendukung setiap apa yang dilakukan guru. Sebab, yang kutahu guru akan mendidik dengan cara yang terbaik.
Duhai cintaku,pernahkah kalian menghargai setiap suara yang diberikan oleh guru kalian. Mungkin di kampusnya, gurumu menjadi orang yang paling didengarkan oleh mahasiswa lainnya. Tapi kamu? Berteriak sesuka hatimu di hadapan guru-gurumu. Apakah tak wajar guru harus marah ketika orang yang dicintainya mempermainkannya? Apakah guru harus sabar ketika orang yang ia cintai lebih dari ia mencintai dirinya sendiri menyakiti hati sang guru?
Duhai cintaku, marahnya guru adalah bentuk cintanya yang terbungkus dalam rupa yang tidak baik. Walau terkadang cinta tak selamanya terlihat indah. Tapi jika kamu mengerti, semakin sayang aku dan semakin cinta aku padamu, maka layaklah aku marah. Itu berarti aku masih mau memerdulikanmu.
Duhai cintaku, sampaikan kepada orang tuamu. Tiap guru mencintai siswanya. Jika tiba suatu saat nanti, kau tidak diperdulikan oleh gurumu lagi. Itu menunjukkan bahwa cinta sang guru terhadapmu mulai memudar. Walaupun, sang guru akan tetap berusaha kembali mencintamu.
Duhai cintaku, pernahkah kamu berpikir satu kali saja bahwa sanya sakitnya menjadi seseorang yang tak melakukan apa-apa, tapi dibenci? Pernahkah kamu melewati gurumu, tidak menyapa, malah mengucilkannya? Jika pernah, memohonlah ampun kepada Allah. Sungguh itu tidak baik diperbuat.
Duhai cintaku, mengapa aku mencintaimu? Sebab, aku melihat masa depan di setiap sudut matamu. Jika aku harus berjuang untukmu dan memperjuangkanmu. Apakah layak kamu menjatuhkanku ketika aku berjuang untuk membangkitkanmu?
Duhai cintaku, aku ingin mencintaimu setulus hatiku. Bukan dengan membanting meja dan kursi, memukul papan tulis dan melempar penghapus. Walau penghapus sengaja di lempar tak tepat sasaran.
Duhai cintaku, terkadang aku lelah mencintaimu. Apakah tak wajar ketika engkau tak menghargaiku, aku memberikan hukuman padamu? Sampaikan pada orang tuamu sayangku, jika aku tidak boleh menyentuhmu bagaimana aku bisa mendidikmu? Apakah orang tuamu mau menggantikan aku untuk mendidikmu dan teman-temanmu di sekolah? Jika iya, aku rela.
Duhai cintaku, terkadang aku kepikiran dari setelah keluar kelas sampai keesokan harinya. Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu menjadi lebih baik. Aku terlalu sering membingung di dalam hidupku. Tak lelahkah engkau menambah-nambahi bentuk kebingungan dalam hidupku.
\


0 komentar:

Posting Komentar