Kalimat pertanyaan
itu selalu muncul dan terdengar di telinga yusuf. Untuk lelaki semuda yusuf,
sebenarnya tidak masalah baginya menangguhkan untuk melenggang ke pelaminan.
Pasalnya usianya masih sangat muda, 22 tahun. Walau diluar sana banyak orang
yang bahkan lebih muda dari yusuf mengakhiri masa lajangnya.
“Pak, apa lagi?
Kapan nikah?”
Yusuf hanya bisa
tersenyum.
“Jangan
senyum-senyum saja pak yusuf.”
“InsyaAllah
secepatnya pak. Kalau sudah waktunya, insyaAllah akan menikah pak.”
“Itu ada bu mawar
yang masih jomblo.”
Lagi-lagi yusuf
melontarkan senyumnya.
“Bapak ganteng, uang
banyak, apa lagi yang mau ditunggu?”
Untuk yang kesekian
kalinya yusuf hanya bisa memberikan senyuman, dan bergumam di dalam hati.
“Waduh, ini bapak.
Kaya dari mana? Ganteng dari mana?”
Dalam sabarnya,
yusuf senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan jalan yang
terbaik. Melanjutkan studi atau menikah. Karena menurutnya, tiada manusia yang
tidak ingin menikah.
Tepat sebelum akad
nikah kakak yusuf, rencana pulang kampung pun sudah dibuat. Dengan cepatnya
kereta yang membawa para penumpang hingga yusuf sampai di kota kelahirannya.
Kota balai namanya. Yusuf pun turun dari kereta.
“Wah, buyah dimana
ya? Telpon ga ada pulsa. Miscall aja deh.”
Yusuf berharap
ditelpon balik. Beberapa detik setelah yusuf memiscall, buyah pun kembali
menelponnya.
“Dimana suf? Kami
dengan supermarket ya.”
“Yang sebelah kanan
atau kiri?”
“Kiri.”
Yusuf sedikit kaget,
beliau dijeput naik mobil. Jarang-jarang orang tuanya menjeputnya naik mobil.
Biasanya hanya naik motor. Yusuf memeluk buyah dan uminya, seraya berkata.
“Rindu.”
“Dasar manja.” Bisik
umi.
“Biarin. Mi, kan
kakak bentar lagi menikah. habis dia,
saya lah ya!”
“Ntar, kamu nikahnya
diusia 25 tahun saja.”
“Kok gitu?”
“Ga papa, kan belum
mapan juga.”
“Yaelah, nunggu
mapan. Kapan saya nikah. Lagian, pengennya sama-sama berjuang dengan istri
nantinya.” Gerutu yusuf dalam hati.
Dalam penantian
panjang, yusuf bersedih. Bertindak selayaknya orang yang labil. Mendiamkan
orang tuanya sebab tak merestui ia menikah.
“Aku, sedang sakit
bathin. Kenapa sulit rasanya untuk mendapatkan restu dari orang tuaku.”’
Hari demi hari silih
berganti. Yusuf tetap cuek dan seolah tidak peduli dengan orang tuanya. Meski begitu,
itu merupakan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan olehnya sendiri. Sehingga,
dia butuh waktu untuk menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi.






Tema ceritanya menarik. Saya suka
BalasHapusterimakasih, boleh dishare
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus