Rabu, 11 April 2018

“Kapan Nikah?”

Kalimat pertanyaan itu selalu muncul dan terdengar di telinga yusuf. Untuk lelaki semuda yusuf, sebenarnya tidak masalah baginya menangguhkan untuk melenggang ke pelaminan. Pasalnya usianya masih sangat muda, 22 tahun. Walau diluar sana banyak orang yang bahkan lebih muda dari yusuf mengakhiri masa lajangnya.
“Pak, apa lagi? Kapan nikah?”
Yusuf hanya bisa tersenyum.
“Jangan senyum-senyum saja pak yusuf.”
“InsyaAllah secepatnya pak. Kalau sudah waktunya, insyaAllah akan menikah pak.”
“Itu ada bu mawar yang masih jomblo.”
Lagi-lagi yusuf melontarkan senyumnya.
“Bapak ganteng, uang banyak, apa lagi yang mau ditunggu?”
Untuk yang kesekian kalinya yusuf hanya bisa memberikan senyuman, dan bergumam di dalam hati.
“Waduh, ini bapak. Kaya dari mana? Ganteng dari mana?”
Dalam sabarnya, yusuf senantiasa berdoa dan meminta kepada Allah agar diberikan jalan yang terbaik. Melanjutkan studi atau menikah. Karena menurutnya, tiada manusia yang tidak ingin menikah.
Tepat sebelum akad nikah kakak yusuf, rencana pulang kampung pun sudah dibuat. Dengan cepatnya kereta yang membawa para penumpang hingga yusuf sampai di kota kelahirannya. Kota balai namanya. Yusuf pun turun dari kereta.
“Wah, buyah dimana ya? Telpon ga ada pulsa. Miscall aja deh.”
Yusuf berharap ditelpon balik. Beberapa detik setelah yusuf memiscall, buyah pun kembali menelponnya.
“Dimana suf? Kami dengan supermarket ya.”
“Yang sebelah kanan atau kiri?”
“Kiri.”
Yusuf sedikit kaget, beliau dijeput naik mobil. Jarang-jarang orang tuanya menjeputnya naik mobil. Biasanya hanya naik motor. Yusuf memeluk buyah dan uminya, seraya berkata.
“Rindu.”
“Dasar manja.” Bisik umi.
“Biarin. Mi, kan kakak bentar lagi menikah. habis dia,  saya lah ya!”
“Ntar, kamu nikahnya diusia 25 tahun saja.”
“Kok gitu?”
“Ga papa, kan belum mapan juga.”
“Yaelah, nunggu mapan. Kapan saya nikah. Lagian, pengennya sama-sama berjuang dengan istri nantinya.” Gerutu yusuf dalam hati.
Dalam penantian panjang, yusuf bersedih. Bertindak selayaknya orang yang labil. Mendiamkan orang tuanya sebab tak merestui ia menikah.
“Aku, sedang sakit bathin. Kenapa sulit rasanya untuk mendapatkan restu dari orang tuaku.”’
Hari demi hari silih berganti. Yusuf tetap cuek dan seolah tidak peduli dengan orang tuanya. Meski begitu, itu merupakan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan olehnya sendiri. Sehingga, dia butuh waktu untuk menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi.


3 komentar: