Rabu, 01 Februari 2017

Chat Tentang Pacaran

Dalam diamnya terus berdoa. Menadahkan tangan di hadapan illahi. Sang Khaliq yang mencintai hamba-Nya. Walau terkadang sebagai hamba selalu saja melupakan kasih Allah, sang pencipta.
Dalam hidup ini, rentan kita melupakan nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya. Bahkan kita selalu  amnesia apa tujuan kita diciptakan ke dunia ini. Ada yang mengejar dunia, hingga melupakan akhirat. Hakikat kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah. Sang Pencipta alam semesta.
Yusuf menghela nafas yang begitu panjang, mengingat kembali tujuan manusia diciptakan. Dalam ingatannya, tiada tujuan yang lain melainkan semakin bertakwa kepada Allah. Dengan cara apapun, selagi itu merupakan kebaikan. Termasuk meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Bel berbunyi......
“Oke, kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya”
“Oke pak” jawab murid serentak.
Setelah bel berbunyi, yusuf bergegas  menuju ruang guru untuk beristirahat sejenak. Dengan meregangkan badannya yang telah pegal. Tak begitu santai, tapi ia mencoba untuk rileks. Meski sulit, tapi ia berusaha merilekskan badannya agar fit ketika pulang naik motor.
Yusuf adalah guru favorit siswa-siswinya. Menjadi guru lelaki termuda dan mudah bergaul dengan siswa merupakan jurus andalannya. Walaupun terkadang ada beberapa siswa centil yang menggodanya. Tapi ia tetap fokus dalam melaksanakan pembelajaran.
Sesampainya yusuf di rumah....
“Iseng chat siswa ahhhh.....”
“Assalamu’alaikum nak.....”
“Wa’alaikum salam pak, ada apa pak?”
“G pp nak. Sehat nak?”
“Alhamdulillah pak, bapak gimana?”
“Saya alhamdulillah sehat”
“Hmmm, pak, gimana menurut bapak tentang pacaran?”
“Kamu mau tanya tentang apanya nih?”
“Ya, bagaimana tanggapan bapak hukum pacaran?”
“Menurut kamu gimana?”
“Menurut saya gpp sih, asalah tidak melakukan zina”
“Emang, menurut kamu zina itu gimana?”
“Zinakan ada banyak macamnya pak. Ada zina mata, dan lain-lain. Tapi secara garis besar zinakan perbuatan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan dan perkawinan!”
“Betul kan pak?” Lanjutnya
“Ya, ada zina hati, zina mata dan zina dzahir (jelas). Kalau pacaran, kira-kira zina mana nak?”
“Pengertian dari zina tersebut apa sebenarnya pak? Kalau zina mata, ga pacaran juga bisa pak. Zina hati juga ga pacaran bisa kok pak”
“Ya, sedang kamu tidak pacaran aja bisa zina mata, apa lagi pacaran.”
“Gimana kalau LDRan pak?
Boleh kan pak?”
“Benerkan untuk statemen bapak yang diawal? Lagian tidak ada obat bagi seorang laki-laki dan perempuan yang sedang jatuh cinta, melainkan pernikahan. Bukan pacaran loh”
“Terus, apa beda pacaran dan ta’aruf pak?”
“Ha, beda lah. Kalau ta’aruf dia serius mau menikah. kalau pacaran kagak. Kalau ta’aruf itu ada aturannya. Bukan sesuka hati. Ada wali yang menemani, kita kagak nyentuh dia“
“Emang kamu mau nikah sekarang? hehe”
“Tapi masalahnya ta’aruf zaman sekarang susah pak. Enggak sih pak”
“Kamu ga mau nikah? Haha. Mencurigakan”
“Haahaha. Mau pak, tapi ga sekarang”
“Itu dia baru bener”
“Jadi sekarang temenan aja pak. Kalo ada niat nikah baru ta’arufan ya pak”
“Gampang kok nak ta’arufan. Kalau memang mau ta’aruf bilang aja sama bapak”
“Bapak mau ngasih calonnya pak?”
“Bukan-bukan. Kalau memang iya. Kita bantu. Ingat aja nak, laki-laki baik untuk wanita baik-baik lo.... begitu pula sebaliknya”
“Ta’aruf ada batas waktunya ya pak?”
“Setahu saya begitu, agar tak merusak hati kedua belah pihak”
“Insya Allah deh pak. Ga pacaran, temanan aja lah pak”
“Betul nih? Alhamdulillah kalau gitu. Kalau pun kamu pacaran, emang ada untungnya?”
“Ga ada sih pak, tapi kan bisa saling memotivasi loh pak”
“Mana besaran doa dan motivasi ibu atau pacarmu?”
Si murid diam tanpa kata.

Kisah ini pun bermula entah sejak kapan. Mungkin, yusuf hanya tak ingin muridnya terjebak dalam perbuatan yang sangat dilarang oleh agama. Yah, mungkin saja. Sebab, yusuf, dulunya juga pernah pacaran. Entah apa yang membuatnya dulu pacaran. Dan entah apa pula yang membuatnya kini berhenti dan memutuskan untuk tidak pernah lagi pacaran. Yang pasti, karena perintah Allah untuk tidak mendekati zina.

3 komentar: